Selasa, 22 Juli 2014

Samarinda, si Kota Tepian


Samarinda memiliki slogan Tepian yaitu Teduh, Rapi, Aman, dan Nyaman. Itulah harapan dan cita-cita kota ini beserta warga masyarakatnya. Layaknya kota-kota besar di Indonesia maka, demikian pula dengan Samarinda, sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Timur dengan PAD yang tinggi maka seharusnya daerah dan warganya sejahtera, namun apa yang terjadi, kota Tepian yang kita cintai masih harus terus berbenah diri, mengingat banyak sekali permasalahan yang terus terjadi. Berikut akan penulis kemukakan satu per satu permasalahan yang penulis amati selama ini terjadi di kota kebanggaan kita ini.

Pertama, Banjir
Banjir di Simpang empat Lembuswana (Sumber : Sapos.co.id)
Masalah banjir saat ini menjadi momok yang cukup sering terjadi saat ini, bahkan ketika hujan tidak begitu deras sekalipun, tanda-tanda akan banjir tetap terlihat setelah hujannya reda, lihat saja di simpang empat lembuswana, Jl.antasari dan masih banyak lagi warga yang was-was setiap hujan kalau rumahnya banjir. Banyak yang beranggapan banjir disebabkan kurangnya ruang terbuka hijau, pesatnya perkembangan gedung, dan maraknya penambangan yang ada.

Apabila Pemkot ingin mengatasi masalah banjir harus melihat beberapa aspek, pertama aspek penyiapan model penanganan banjir, kedua kemampuan pemkot dalam penataan ruang atau lahan kota penyerap air, ketiga pemkot harus cepat dan responsif menangani segala masalah banjir, ini soal komitmen untuk segera menuntaskan masalah banjir, dan keempat adalah partisipasi aktif masyarakat warga kota Samarinda untuk menjaga lingkungan hidup yang lebih berkualitas. Masukan dari penulis sendiri sudah pernah dituliskan disini dan disini.


Kedua, Kemacetan
Kemacetan di Jembatan Ps. Sungai Dama (Sumber : Tribun News)
Macet adalah hal yang biasa terjadi di kota besar, tidak terkecuali Samarinda, karena kendaraan makin banyak dan beraneka ragam sedangkan jalan kota tetap saja lebar dan panjangnya, sehingga terasa makin sesak. Lihat saja apabila sore hari di Jembatan Pasar Sungai Dama dan Jembatan Mahakam, puluhan kendaraan macet ingin melewatinya.

Sebaiknya Pemkot sudah membuat jalan-jalan alternatif dan melebarkan badan jalan itu sendiri, serta bertindak lebih tegas kepada pengendara yang melanggar aturan lalu lintas. Namun, pada dasarnya penulis melihat sudah ada itikad baik dari pemkot untuk mengurai kemacetan dengan membangun flyover tapi sepertinya belum terlalu tampak baru plang nya saja, mungkin karena ini harus dilelang dan merupakan proyek multi years.
Ketiga, Jalan rusak dan berlubang
Jl. Jakarta Loa Bakung Samarinda (Sumber: Samarindatepian.com)
 Kalau masalah yang ini penulis mengamatinya hampir setiap hari, karena “hampir” semua jalan di kota ini tidak rata, ada saja lubangnya. Apalagi dengan banyaknya kendaraan berat yang lalu lalang melewati jalan-jalan tersebut, tapi mau apalagi mereka juga memang harus lewat di jalan itu karena hanya itu jalan satu-satunya yang bisa dilewati. Terutama di jalan dekat rumah penulis sendiri di Jl. Jakarta, Loa Bakung Samarinda.

Meskipun demikian, penulis mengamati sudah banyak titik jalan yang disemenisasi. Lebih dari setengah anggaran pengeluaran untuk membiayai belanja langsung habis untuk menyemen jalan. walaupun masih ada jalan-jalan yang rusak parah dan belum ditangani oleh pemkot seperti dari arah Jl KH Wahid hasyim menuju kawasan Pinang Seribu, hal ini menyebabkan warga menanam batang pohon pisang di jalan dan memblokir jalan tersebut, rusak terparah juga ada di Palaran, banyaknya jalan yang rusak juga dapat menimbulkan korban lalu lintas seperti yang sering kita baca di media cetak saat ini.
Dari kasus tersebut, penulis dan tentu saja segenap warga Samarinda menginginkan Pemkot bersegera, bertindak cepat dalam menangani masalah ini terutama akses jalan yang baik dan lancar.

Keempat, Listrik byar pet
Listrik Padam di Samarinda (Sumber: Tribun News)
Masalah klasik yang mengganggu aktivitas warga adalah seringnya listrik padam terutama pada jam-jam sibuk, Tidak ada hari tidak padam listrik secara tiba-tiba di Samarinda sebagai Ibukota Provinsi Kaltim, bahkan dalam satu hari bisa tiga kali lampu mati, seringnya mati lampu itu bisa membuat rusak alat-alat elektronik. Kenyataan ini sangat mengganggu aktivitas warga, bahkan sangat merugikan, karena tak terhitung warga yang aktivitas kerjanya harus menggunakan aliran listrik, bila listriknya sering padam tentu warga sangat dirugikan. Terkadang listrik dipadamkan tanpa penjelasan sama sekali.
Harapan penulis, agar Pemkot dan PLN bersinergi bersama-sama mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini, bisa pembangkitnya yang ditambah atau dayanya yang ditambah, karena listrik padam ini sangat mengganggu aktivitas warga, dengan SDA batu bara yang melimpah harusnya kota ini bisa berkecukupan listrik. 

Kelima, Pengemis dan gelandangan
Aksi Pengemis Cilik di Lampu Merah (Sumber: wiek/debbi juliana)
Setiap perempatan, pertigaan jalan mesti ada pengemis, gelandangan dan pengamen cilik yang meminta uang kepada pengguna jalan dan jumlahnya pun cukup banyak. Kalau dilihat oleh orang luar tentu ini menjadi ironi karena daerah yang kaya ternyata masih ada saja orang yang meminta-minta. 

Penulis mengamati bahwa para pengemis tersebut berasal dari luar Samarinda, dan pemkot juga sudah berupaya menangkap lalu memulangkan si pengemis tersebut, sayangnya mereka datang lagi dan lagi karena merasa lebih mudah mencari uang disni. 
Oleh karena itu, Penulis menghimbau para pembaca untuk lebih baik menyedekahkan uangnya ke mesjid atau orang tidak mampu yang kalian tahu asal usulnya. Bagi pemkot, larangan baik memberi dan menerima uang ke pengemis sebenarnya sudah ada namun papan larangannya terlalu kecil, akan lebih baik kalau pengumuman larangan dan dendanya dibuat lebih besar lalu dipasang di setiap lampu merah jadi baik pengemis dan pengendara lalu lintas bisa  membaca dengan jelas sehingga masalah ini bisa teratasi.

Demikian, pendapat penulis tentang permasalahan dan solusinya bagi kota Samarinda, semoga hal ini dapat menjadi bahan evaluasi diri baik itu untuk Pemerintah Kota Samarinda juga bagi Warga Kota Samarinda seluruhnya demi terwujudnya Samarinda kota Tepian Teduh, Rapi, Aman, dan Nyaman.

Apbila para pembaca memiliki ide/masukan/kritik/saran yang positif bagi kemajuan kota Samarinda, silakan isi surveinya DISINI.  Dengan menjadi warga kota yang baik kita sudah membuktikan bahwa kita memang “urang” Samarinda, urangnya kota kita tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar