Kamis, 31 Juli 2014

Potensi Kota Samarinda dari berbagai aspek

Kota Samarinda merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kota Samarinda memiliki iklim tropis, hujan sepanjang tahun dengan rata-rata curah hujan 1.649 mm/th. Kecepatan angin terendah sekitar 21 knot dan tertinggi sekitar 87 knot. Sungai-sungai yang melintas di Kota Samarinda memiliki pengaruh yang cukup besar pada perkembangan kota dan sebagai salah satu pusat perekonomian regional terpenting di Kalimantan Timur.

Kota Samarinda memiliki posisi dan kedudukan strategis bagi berbagai kegiatan industri, perdagangan barang dan jasa serta pemukiman yang berwawasan lingkungan.
Kota Samarinda yang berkedudukan sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Kartanegara, memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
  • Sebelah Utara : berbatasan  dengan Kecamatan Muara Badak Kabupaten Kutai Kartanegara.
  • Sebelah Timur : berbatasan  dengan Kecamatan Muara Badak, Kecamatan Anggana dan Kecamatan Sanga-sanga Kabupaten Kutai Kartanegara.
  • Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kecamatan Loa Janan Kabupaten Kutai Kartanegara.
  • Sebelah Barat : berbatasan dengan Kecamatan Muara Badak, dan Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

Peta Samarinda (Sumber : Bappeda Samarinda)
Adanya Sungai Mahakam yang membelah di tengah kota menjadikan kota ini bagai gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur, Luas Wilayah Kota Samarinda adalah 718 km persegi yang terbagi  secara administratif semula 6 kecamatan kini menjadi 10 kecamatan berdasarkan Perda No. 02 tahun 2010 Tentang Pembentukan Kecamatan, yakni Kecamatan Palaran, Samarinda Ilir, Samarinda Seberang, Sungai Kunjang, Samarinda Ulu,  Samarinda Utara, dan hasil pemekaran Kecamatan Sambutan,  Samarinda Kota, Sungai Pinang dan Kecamatan  Loa Janan Ilir,  terdiri atas 53 kelurahan. 

Berdasarkan data BPS Penduduk Kota Samarinda  dari tahun ke tahun terus  mengalami pertumbuhan. Tahun 2010 berjumlah 727.500 jiwa atau naik 19,38% di banding jumlah penduduk tahun 2009 (609.380 jiwa). Persebaran penduduk sebanyak 27,84% menempati Kecamatan Samarinda Utara yang memiliki wilayah paling luas yaitu sebesar 277,80 Km persegi. Sedangkan, Kecamatan Palaran yang memiliki luas wilayah sebesar 182,53 km2 atau terluas kedua setelah Samarinda Utara, hanya ditempati 49.079 jiwa atau 6,75 % dari jumlah penduduk Kota Samarinda. Angka tersebut merupakan angka terendah dalam distribusi penduduk per kecamatan di Kota Samarinda. 

Hal ini menunjukkan bahwa penyebaran penduduk Kota Samarinda mayoritas mengarah ke bagian Utara, terbukti dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 33,11% dibanding penduduk tahun 2009, sedangkan ke arah Selatan seperti Palaran dan Samarinda Seberang pertumbuhan penduduk masing- masing 11,57%  dan 19,40%,  pertumbuhan  terendah  di kecamatan Samarinda Ilir sebesar 10,41 %.


Salah satu indikator ekonomi makro yang digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan di daerah dalam lingkup Kabupaten/Kota adalah jumlah nilai tambah (barang dan jasa) yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah dalam satu tahun, atau disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kenaikan jumlah produksi dan harga barang/jasa merupakan faktor utama pendorong kenaikkan nilai PDRB Kota Samarinda, terlebih berjalannya otonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi dalam periode 2000-2010 telah mencapai rata-rata diatas 6 persen per tahun. Suatu kondisi ekonomi daerah yang dapat dikatakan sangat bagus bahkan optimis akan lebih baik lagi pada tahun-tahun mendatang. 

Sektor yang mencatat angka pertumbuhan yaitu di sektor bangunan dan sektor Pertambangan/Penggalian. Pertumbuhan ekonomi yang tercipta merupakan salah satu dampak positif pembangunan daerah, melalui peningkatan peran Pemerintah Daerah dalam pembangunan, walaupun demikian pertumbuhan ekonomi ini juga tidak terlepas dari peran swasta dalam melakukan aktivitas ekonominya di Kota Samarinda. Sinergi serta kerjasama dari kedua pihak dalam menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi di Kota Samarinda masih diperlukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan serta kesejahteraan masyarakat.

Secara umum, pembentukan perekonomian Kota samarinda secara perlahan dan pasti menuju kota pelayanan (service) meliputi sektor perdagangan, hotel & restoran, angkutan & komunikasi, keuangan, persewaan & jasa perusahaan dan jasa-jasa, mencatat kontribusi (peranan) sebesar 54,62 persen (2001) saat ini meningkat menjadi 64,13 persen (2010). Perubahan perekonomian Kota Samarinda sangat dipengaruhi oleh naik turunnya sektor-sektor tersebut. Terlihat dengan adanya pergeseran kontribusi ekonomi Kota Samarinda dari tahun ke tahun, dilihat dari tiga sektor besar, maka tampak adanya pergeseran yang signifikan antara pertanian (agriculture), pembuatan (manufacture) dan pelayanan (service).

Kota Samarinda saat ini sedang menuju kota metropolis yaitu sebagai kota industri, perdagangan dan  Jasa  yang berwawasan lingkungan. Peningkatan sektor industri termasuk dalam kategori yang pesat pertumbuhannya,  terutama kelompok Industri Kecil Menengah (IKM). Kebijakan pembangunan secara sektoral yang strategis adalah pembangunan sektor industri. Sektor industri dipandang sebagai sektor yang memiliki tingkat produktivitas yang tinggi sehingga
,  dengan keunggulan ini akan didapat nilai tambah yang tinggi, yang pada akhirnya dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Sampai dengan tahun 2010, jumlah IKM di Kota Samarinda adalah  1.086 unit  berarti  tumbuh 53 unit usaha atau 5,13 % di banding  tahun  2009 (1.033 unit). Pertumbuhan IKM berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja dan nilai investasi  di Kota Samarinda.  Serapan tenaga kerja  berjumlah  9.145 orang  naik 3,03 %. Investasi yang diperoleh dari IKM mencapai 188,8  milyar rupiah pada tahun 2010, meningkat  13 milyar rupiah lebih dari tahun 2009  atau naik 7,48 %. Selain berdampak positif pada investasi, IKM juga memberikan dampak yang sama pada penyerapan jumlah tenaga kerja. Hingga tahun 2009, jumlah tenaga kerja yang terserap mencapai 8.876 jiwa dengan rata-rata 1 IKM menyerap kurang lebih 8 orang tenaga kerja. Bila mengacu pada sasaran nasional yang dicapai oleh sektor IKM 2005-2009, pertumbuhan IKM di Kota Samarinda berada di atas rata-rata, terhitung dari tahun 2005 sampai dengan 2009 mengalami peningkatan yang cukup signifikan baik unit usaha, penerapan tenaga kerja, maupun investasi. Dari target sasaran pertumbuhan unit usaha rata-rata sebesar 4,04 % per tahun, realisasi pertumbuhan mencapai 6,88 % per tahun, target penyerapan tenaga kerja rata-rata sebesar 4,94 % per tahun tercapai sebesar 8,87 % per tahun, target pertambahan rata-rata investasi 2,47 % per tahun tercapai sebesar 18,86 % per tahun.

Keadaan di atas merupakan suatu pertimbangan kuat untuk menjadikan IKM sebagai Leading Industries di Kota Samarinda. Oleh karena itu, Pemkot Samarinda harus terus berupaya meningkatkan tumbuh kembang dan produktivitas IKM yang ada di kota Samarinda dengan cara meningkatkan daya saing antar produk lokal dan nasional, memperluas pemasaran produk, menyediakan teknologi dan peralatan yang canggih memadai, penganekaragaman produk, serta memberikan bantuan permodalan baik secara langsung oleh pemkot kota Samarinda ataupun memfasilitasi bantuan dari pihak ketiga. 


Bila dilihat perkembangan sektor perdagangan, migrasi penduduk lebih disebabkan oleh peran Kota Samarinda yang lebih sebagai kota pusat perdagangan daripada pusat produksi. Perdagangan yang terjadi di Kota Samarinda mayoritas merupakan sarana pemasaran hasil-hasil SDA kabupaten/kota disekelilingnya.  Misal buah Lai yang ada di ke Kabupaten Kutai Kartanegara dipasarkan di Kota Samarinda. Letak Kota Samarinda pada jalur regional provinsi Kaltim semakin meningkatkan perkembangan sektor perdagangan. Selain itu, sektor perdagangan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk menanamkan modalnya di Kota Samarinda. Keadaan-keadaan tersebut merupakan suatu alasan untuk menyatakan bahwa sektor perdagangan Kota Samarinda sangat mempengaruhi migrasi penduduk, baik antar kabupaten di dalam maupun di luar wilayah Kaltim.

Sektor industri di Kota Samarinda masih didominasi oleh sektor Industri Kecil Menengah (IKM). Sektor IKM yang bergerak di Kota Samarinda masih berpegang pada sumber daya alam di kabupaten/kota di luar Kota Samarinda. Keadaan ini justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di kabupaten/kota tersebut.


Kota Samarinda dengan peningkatan perdagangannya secara tidak langsung meningkatkan secara perlahan sektor IKM. Selain berpegangan pada sumber daya alam di kabupaten/kota lainnya, sektor IKM juga berpegang pada iklim perdagangan di Kota Samarinda. Dapat dikatakan bahwa Kota Samarinda melaksanakan peran sebagai kota pusat produksi dalam pengembangan IKM artinya, IKM di Kota Samarinda bergerak untuk memproduksi barang mentah menjadi barang jadi. Sampai tahun 2010, IKM di Kota Samarinda bergerak pada industri logam mesin dan perekayasaan, industri hasil hutan, kimia, pulp, dan kertas, serta agro industri. Semenjak tahun 2008, industri percetakan dan fotokopi serta reparasi selalu mengalami pertumbuhan yang positif dan menjadi sektor IKM yang paling digemari. Mengingat teknologi yang digunakan, ketahanan IKM dalam fluktuatifnya pertumbuhan ekonomi, serta penyerapan tenaga kerja lokal, diduga tahun-tahun mendatang industri tersebut akan semakin besar dan dapat mempengaruhi migrasi penduduk.  


Potensi perekonomian Kota Samarinda cukup menonjol karena memproduksi bahan baku yang diolah pada berbagai industri seperti : industri pengolahan rotan, industri plywood, industri moulding, serta industri pengrajin kayu. Selain industri menengah, juga memiliki potensi industri rumah tangga atau produk kerajinan rakyat seperti : batu-batuan (kristal, kecubung, dll), rotan (topi seraung, lampit, dll), peralatan dan hiasan tradisional (mandau, patung, manik-manik, dll), serta pakaian tradisional (sarung samarinda, batik Kaltim, dll).  Kota Samarinda juga menyimpan potensi perekonomian melalui sektor pariwisata, diantaranya : Air Terjun Tanah Merah, Kebun Raya Samarinda, Cagar Budaya Suku Dayak, Mesjid Tua Samarinda Seberang, serta potensi Wisata di sepanjang Sungai Mahakam. Potensi sektor wisata bisa dilihat pada tulisan sebelumnya.

Dari penjelasan di atas, penulis berpendapat Samarinda dengan segala potensinya harus dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan para warganya. Misalnya untuk potensi wisata alam, penulis sependapat dengan apa yang sudah direncanakan oleh Pemkot Samarinda disini walaupun belum sepenuhnya dilakukan. Potensi tata pemerintahan, sosial, ekonomi, investasi, lingkungan, dan tata ruang kota Samarinda pada dasarnya saling berkaitan dan berpengaruh satu sama lain. Tata pemerintahan yang baik, akan meningkatkan potensi kota Samarinda yang lainnya sehingga, untuk mewujudkan satu kesatuan segala potensi Samarinda yang TePiAN dan sejahtera diperlukan kerjasama menyeluruh antara Pemerintah Kota Samarinda beserta seluruh warga kota Samarinda terutama untuk menerapkan strategi pengembangan potensi yang ada. Bersama Samarinda Bisa!

*mohon maaf kalau tulisan ini agak panjang....tulisan ini ditulis setelah penulis seharian penuh melakukan perjalanan keliling Samarinda dan daerah sekitarnya untuk melakukan observasi, Semoga berkenan dan menginspirasi.*


Salam,
Penulis.

1 komentar:

  1. Nice mba. Sayang sektor jasa nya tidak di bahas padahal termasuk dalam bagian dari visi misi kota samarinda itu sendiri.

    BalasHapus